Sedangkan pada upacara naik buai atau mengayunkan anak atau turun mandi dan turun tanah, menurut adat selalu dilaksanakan selepas habis masa idah empat puluh hari di tambah dengan idah dapur empat hari. Barulah orang biasanya melaksanakan adat itu. Penjelasan panjang-lebar tentang ritual adat-istiadat yang lazim dilaksanakan pada upacara berakikah mengikut aturan adat-istiadat, biasanya disusun dengan tata cara atau senarai. Pertama, kata sambutan dari protokol. Kata sambutan biasanya ditunjuk seorang protokol untuk memberi penjelasan susunan acara (senarai) sebagai pedoman di dalam pelaksanaan hajatan akikah (hukum syariat) sekaligus penjelasan tentang adat yang mengikut di dalam acara akikah tersebut.
Kedua, pembacaan kalam Illahi. Pembacaan kalam Illahi, selalu dilakukan orang agar segala apa yang dihajatkan mendapat rahmat dan hidayah dari Allah SWT. Ketiga, kata sambutan dari tuan rumah. Menurut ungkapan pepatah adat mengatakan, Hati Gajah Sama di Lapah, Hati Semut Sama di Cecah atau Berat Sama di Pikul Ringan Sama Dijinjing.
Hal ini mengandung filsafat yang bermakna yang sangat dalam sekali yang mengandung nilai-nilai asas gotong-royong, silaturrahmi, kekerabatan dan sebagainya. Oleh karena itulah orang tua si anak yang berakikah menurut kebiasaan adat tidak pernah sama sekali memberikan kata sambutan kecuali oleh pelapis dada (bapak saudara atau ibu saudara ataupun pihak lain yang patut ditunjuk menurut adat istiadat).
Keempat, doa akikah. Pada dasarnya, penyebutan nama anak yang akan diakikah sudah dilafazkan pada saat dilakukannya penyembelihan hewan akikah, namun dikarenakan adanya kenduri atau perhelatan jemputan orang banyak, penyebutan nama anak dilakukan pada saat doa akikah oleh buya atau ustadz di hadapan sekalian jemputan yang hadir. Kelima, membaca berzanji. Selepas upacara pengukuhan nama di dalam doa akikah dilanjutkan dengan berkesenian berzanji.
Keenam, marhabban. Sewaktu prosesi doa akikah akan dimulai ibu bapak dan anak yang berkikah sudah didudukan di tengah-tengah jemputan atau di tempat yang sudah ditentukan menurut yang patut atau yang semestinya.
Ketujuh, tepuk tepung tawar sekaligus cukur rambut. Tepung tepung tawar dilakukan lazimnya berdiri, ibu bapak dan anak digendong boleh bapak atau ibu yang menggendong dan dilaksanakan upacara bertepuk tepung tawar sekaligus bercukur rambut yang dilakukan sebanyak hitungan ganjil orang yang menepuk tepung tawar.
Sedangkan guntingan rambut dimasukkan ke dalam kelapa puyuh atau kelapa gading yang sudah diukir menurut selera dengan tetap memakai motif bintang lima untuk penutup kelapa sekaligus ada juga yang dihiasi dengan emas perhiasan antara lain seperti rantai yang bermainkan rupiah, kemudian dibilas dengan boa tepuk tepung tawar.
Kedelapan, naik buai. Naik buai ini ibu bapak boleh mengayunkan anak perlahan-lahan, namun tidak pernah dibuat oleh adat adanya prolog baik oleh ibu maupun oleh bapak sewaktu prosesi ayunan berlangsung. Proses kerja ini dilaksanakan oleh kaum jemputan yaitu grup rebana atau marhabban yang akan melantunkan nyanyian-nyanyian ayun anak.
Keseluruhan tata cara di atas mengandung nilai-nilai filsafat yang sangat tinggi dan mendalam yang tergambar di dalam prosesi adat istiadat berakikah yang mengandung nilai puji syukur terhadap Yang Maha Kuasa, asas gotong-royong dan silaturrahmi kaum kerabat, rukun tetangga handai taulan dan sebagainya.
Apabila prosesi tata cara adat istiadat berakikah ini dilaksanakan tidak menurut aturan nenek moyang turun-temurun, tentulah bergeser nilai-nilai dan makna filsafat yang terkandung di dalam adat-istiadat berakikah tersebut.